MEMAHAMI TRADISI


MEMAHAMI TRADISI
Oleh : Sururi Arumbani

Seorang kyai menasehati jamaahnya: “kalau malam jum’at sebaiknya kerisnya dicuci, diasah, biar hebat kesaktiannya”. Setelah pengajian selesai, maka bapak2 sibuk mencari keris yang dimiliki. Bagi yang tidak punya maka bingung dia. Keesokan harinya dia menghadap kyai beserta teman lainnya dan bercerita kondisi yang tidak punya keris, dan pada malam jum’at tidak bisa mencuci, tetapi dia semalaman berhubungan badan dengan istrinya. Maka jawaban kyainya, “nah itu betul, sebab keris bapak kan cuma itu, maka ya itu yang dicuci dan diasah.” Maka yang laen bergumam, “wah kalau tau begitu mending nyuci keris yang itu ndak ribet, ndak perlu pake bunga, menyan, dan laennya”.

Seringkali kita memahami pesan budaya Jawa (maaf deh yang bukan jawa) tidak secara tepat, malah kecurigaan yang muncul. Misalnya pesan jangan “duwe gawe”/mantu atau lainnya di bulan suro atau selo. Memang ketika orang tua dulu ditanya mengapa, dijawab tidak baik. maka dipahami bulan-bulan tersebut sebagai bulan sial. Bahkan seringkali tokoh-tokoh ustadz mengutuk pesan tersebut. tapi kalau mau sedikit saja menelaah, maka tentu akan laen. jangan sampai seperti jamaah di atas.

Mari dimulai dari bulan selo. jarwane (karepe, uraiane) selo itu keSEselan oLO (kemasukan jelek). Coba bandingkan dengan nama dalam hijriyah (islam) zul qa’idah (miliknya orang yang duduk), artinya ya lebih baik untuk tenang. dalam sejarah bulan tersebut memang dilarang perang (bukan begitu) apa artinya, bulan2 tersebut adalah bulan untuk merenung, setelah sawwal dan puasa, maka diajak merenung kembali untuk memasuki bulan haji. Merenung dalam pemahaman agama, sehingga memasuki haji akan bersiap-siap bagi mereka yang mampu berhaji. Nah dus, tidak ada kontradiksi pesan dari leluhur jawa dengan maksud hijriyah, artinya sama-sama untuk merenung, bukan untuk seneng-seneng.

Bulan Suro, diambil dari kata asyuro (sepuluh hari), ini merupakan awal tahun dalam hijriyah, dan kebetulan sejarah mencatat peristiwa-peristiwa memilukan yang dialami para nabi dan tokoh islam masa lalu, dari mulai nabi musa, yusuf, sampe cucu Muhamamd SAW, di karbala. Maka jika bulan Suro dijadikan saat untuk introspeksi total pada diri manusia adalah sangat tepat. Nah pesan budaya jawa, maka saat yang baik untuk mencuci pusaka, membersihkan apa yang menjadi senjata ampuh, mencucui diri, mencuci pikiran, mental. Dengan demikian tirakat menjadi pilihan yang tepat. So bulan Suro yang diisi dengan kegiatan tersebut, maka klop dengan pesan hijriyah Muharram (bulan yang disucikan). Anda mau menikah/pesta disaat banyak orang prihatin??? APAKAH BIJAK SIKAP SEPERTI ITU??? nah ini bukan wilayah logika, tetapi wilayah empati, simpati, solidaritas.MALAM

Semoga bermanfa melihat versi cetaknya silakan klik (save target as) memahami-tradisi.doc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: