Coba

Posted in Uncategorized on Oktober 25, 2010 by Mochammad Sururi

Pendekatan Administrasi Publik (Seri-1)

Posted in AKADEMIK on September 22, 2010 by Mochammad Sururi

PENDEKATAN-PENDEKATAN ADMINISTRASI PUBLIK

Oleh : M. Sururi

(Disarikan dari Buku “Revolusi Administrasi Publik”, tulisan Lely Indah Mindarti, Penerbit Bayumedia Publishing, Malang)

Terdapat dua perspektif pendekatan utama dalam Administrasi Publik, yakni perspektif ortodok dan perspektif baru (new perspective)[1]. Perspektif yang bukan sesuatu yang harus dinafikan atau direndahkan, tetapi semua perspektif, bahkan pendekatan yang lahir dalam bidang adaministrasi publik dianggap sebagai sebuah proses menuju perbaikan, baik dari sisi teori itu sendiri maupun dari sisi perwujudan administrasi publik yang memberikan pelayanan yang lebih baik. Perspektif ortodoks dipahami sebagai sebuah tahap awal dalam perkembangan administrasi public, tetapi bukan berarti tidak bermanfaat sama sekali pada era sekarang. Pendekatan-pendekatan ortodoks masih bisa dijadikan pendekatan terhadap masalah-masalah kekinian, namun sekali lagi bahwa proses perubahan itu harus disadari betul. Dengan kata lain, segala kelebihan pendekatan ortodok harus bisa dimanfaatkan, sementara kelebihan pendekatan baru harus bisa melengkapi dan menyempurnakan.

Dalam tulisan ini, akan disajikan ringkasan berbagai pendekatan administrasi publik yang berkembang selama ini.

  1. PERSEPEKTIF ORTODOKS
  1. Pendekatan legal (hukum)

Asumsi : bahwa kekuasaan legal adalah kewenangan yang efektif (ingat : birokrasi Weber). Administrasi public merupakan penjabaran konstitusi, dengan demikian tidak hanya eksekutif, tetapi legisltaif dan yudikatif.

Fokus : peraturan perundangan, hak hokum/prerogative dari eksekutif, penjabaran teknis dari hak hokum.

Perkembangan : perlunya batasan hukum agar eksekutif tidak semena-mena, dengan adanya prinsip good governance (pemerintahan yang baik), bila terjadi pelanggaran hukum, maka perlu mekanisme hukum administrasi public (PTUN).

Kelebihan : pendekatan ini sejalan dengan demokrasi, dimana keleluasaan hukum dari (pejabat, eksekutif) dibatasi oleh sistem hukum yang kompleks.

Kekurangan : memendang sempit administrasi public sebagai “pelaksana aturan”, kurang kreatif dan kurang memperhatikan proses.


[1] Simmons, Robert H and Dvorin, Eugene P, 1977, Public Administration : Value,Policy dan Change, Washington DC, Alfred Publishing Co.Inc.

DEFINISI ADMINISTRASI

Posted in AKADEMIK on September 16, 2010 by Mochammad Sururi

DEFINISI ADMINISTRASI

Oleh : M. Sururi

Definisi bahasa :

Administrasi dari kata to administer diartikan dengan to manage (atau mengelola).

Definisi sempit :

Administrasi diartikan sebagai penyusunan dan pencatatatn informasi dan data

Definisi luas :

Administrasi diartikan sebagai kegiatan kerjasama oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

The Liang Gie menyimpulkan tiga pengertian Administrasi sebagai berikut :

  1. Administrasi sebagai proses kegiatan
  2. Administrasi sebagai tata usaha
  3. Administrasi sebagai kegiatan pemerintahan

Definisi Ahli :

Stephen P Robbins :

Administration is the universal process of efficiently getting activities completed with and through other people

(Robbins, Stephen P, 1978, Administrative Process : Integrating Rheory and Practice”, New Delhi : Prentice Hall of India Private Limited)

Sondang P Siagian

Administrasi adalah keseluruhan proses kerjasama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan pada rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

(Siagian, Sondang P, 1973, Filsafat Administrasi,Gunung Agung, Jakarta)

Harris Muda

Administrasi adalah suatu pekerjaan yang sifatnya; mengatur segala pekerjaan yang berhubungan dengan tulis-menulis, surat-menyurat, dan mencatat (membukukan) setiap perubahan/kejadian yang terjadi di dalam organisasi.

(Damai Darmadi dan Sudikin, 2009,Administrasi Publik, LaksBang Pressindo, Yogyakarta).

Wijana

Administrasi sebagai rangkaian semua organ Negara rendah dan tinggi, yang bertugas menjalankan pemerintahan, pelaksanaan dan kepolisian.

(Damai Darmadi dan Sudikin, 2009,Administrasi Publik, LaksBang Pressindo, Yogyakarta).

Z Wajong :

Administrasi (public) adalah kegiata yang dilakukan untuk mengendalikan usaha-usaha instansi pemerintah agar tujuannya tercapai.

(Wajong, Z, 1961, Fungsi Administrasi Negara, Djambatan, Jakarta)

*) Semoga bermanfaat

Kekerasan atas nama Agama

Posted in ASAL USIL on September 15, 2010 by Mochammad Sururi

Akhir-akhir ini muncul berbagai masalah kekerasan dalam lingkup keberagamaan kita. Mulai yang itu-itu saja dari Palestina, atau dari Amerika Serikat dan paling lokal di Indonesia. Yang begitu menyita perhatian besar kita adalah apa yang terjadi di AS sono, dimana seorang Pendeta merencanakan membakar Al Qur’an. Wow mengapa sampai demikian berani??? apakah sikap ini didasari karena ketidakwarasan orang tersebut atau karena emosi yang begitu kuat dan kebencian mendalam atas sesuatu. Tentu masih ingat adanya polemik di AS tentang pembangunan Masjid / Islamic Centre di dekat bekas lokasi WTC yang dibom oleh para teroris. Rencana pembangunan tersebut mengusik sebagian orang AS, bahwa lokasi yang seharusnya bebas dari kepentingan politik dan agama, malah akan dibangun Masjid yang dipandang sebagai representasi kepentingan politik agama orang Islam. Maka tidak mengherankan jika ada orang yang membuat tandingan, yaitu merencanakan membakar Al Qur’an,meski pada akhirnya dia harus dihentikan, sebab resiko membakar Al Qur’an jauh lebih besar dibandingkan dengan polemik pembangunan Masjid tersebut.

Orang boleh berbeda, boleh tidaknya pembangunan tempat ibadah di suatu tempat. Ini seperti di Bekasi, hampir sama. Penyelesaian ala Amerika adalah debat terbuka, perang argumentasi. Namun sayang di Bekasi lebih keras. Selalu ada saja orang-orang yang bertindak semau gue. Melakukan kekerasan atas nama agama, pembelaan pada Allah.

Islam adalah agama pembawa kedamaian bagi semuanya…jadi jika ada sekelompok orang yang merusak bumi ini, merusak kedamaian yang sudah tercipta, merusak persaudaraan yang sudah terjalin, maka itulah musuh Islam yang sebenarnya.

Siapa saja bisa disebut merusak bumi, merusak generasi, merusak peradaban, merusak budi pekerti dan merusakan segala kebaikan di muka bumi. Bahkan melalui cara apapun,perusakan itu tidak dibenarkan dalam Islam. Sebab Islam menjaga hal-hal lama yang baik dan melakukan inovasi demi perbaikan kondisi yang ada…

Wallahu ‘alamu bisshowab

Sabar (Bagian III)

Posted in SPIRITUALITAS on Oktober 24, 2009 by Mochammad Sururi

Sabar (Bagian III)

Jika pada bagian sebelumnya mengulas apa itu sabar, bagian ini akan membahas untuk apa bersabar. Allah berfirman :”Mintalah dengan sabar dan sholat, sesungguhny Allah bersama orang yang bersabar”. Ayat ini dengan tegas menyebutkan dua fungsi sabar, yaitu untuk meminta (solusi atas berbagai masalah) dan dekat kepada Allah. Dua hal itu tidak dapat dipisahkan dan pada ujungnya tetap dekat kepada Allah.

Sering kali diantara kita bertanya dengan penuh heran; “mengapa orang-orang kafir kok sukses dalam hidupnya? berhasil dalam kehidupan?”, diantara kita ada yang memberi jawaban:”ah itu kan keberhasilan semu, Allah hanya menguja (memanjakan) saja dan tidak berarti benar-benar di sayang sama Allah”. Jawaban tersebut lebih pada penyelematan keimanan agar orang tidak jatuh dan tertarik pada keberhasilan orang-orang kafir dan akhirnya mengikuti jalan hidup orang kafir. Tidak ada salahnya jawaban itu. Tetapi kurang mengena, tidak fokus pada jawaban mengapa. Ayat yang saya kutip di atas benar-benar menegaskan bahwa kesabaran adalah kunci. Disinilah sisi  universal hukum Allah (Sunnah Allah) yang tertuang dalam Al Qur’an. Siapa sabar ya bisa mengatasi masalah,  tidak peduli siapapun dia, agama apapun dia. Jadi jangan heran ketika, ada orang yang nyembahnya cuma batu bisa sukses, bisa mengatasi masalah hidupnya. Sebab dia sudah bersabar dalam usaha, bersabar atas mencari solusi, meski dia terantuk batu. Jadi inilah keadilan Allah yang didasarkan pada hukumnya yang universal. Disinilah penjelasan mengapa maling, koruptor dan sebagainya kok ya bisa berhasil. Mereka melakukan kejahatan dengan ketelitian, kesabaran. Jadi itupun bisa dilakukan.

Bagi orang-orang beriman perlu diingatkan dengan penegasan Allah “Sesungguhnya Allah beserta orang bersabar”. Ada dua bentuk kedekatan dengan Allah dalam ayat tersebut, yaitu Manusia yang mendekati Allah (dengan Sholat) dan Allah yang mendekati manusia (dengan bersabar). ketika manusia bisa bersabar seperti yang diuraikan sebelumnya, yang bersumbu pada Allah, maka pada saat itu Allah menyertai manusia itu. Penegasan itu pula yang pada akhirnya membedakan orang beriman dengan tidak. Seolah-olah Allah berkata, ketika manusia sudah bersabar bisa jadi bukan keberhasilan, tetapi kegagalan. oleh karena itu, allah akan tetap menemani manusia tersebut, meski tidak dikabulkan secara langsung. Bagi orang beriman, jawaban itu sungguh luar biasa. Bukan bicara dikabulkan atau tidak, diterima atau tidak permintaannya. tetapi jaminan Allah akan menyertai itu sungguh luar biasa. Jika sholat manusia berusaha keras mendekati allah, malah ini sebaliknya. Oleh karena itu kenikmatan didekati itu merupakan anugrah yang luar biasa, sehingga tetap membuat manusia tetap bersabar dan tetap mendamba didampingi Allah swt. Mana ada kenikmatan yang lebih luar biasa selain itu??? Bahkan dalam kitab-kitab klasik disebutkan kenikmatan pada ujungnya di surga nanti adalah “melihat wajah allah”. Ketika di dunia ini bisa didampingi, disertai Allah terus menerus, maka dia sebenarnya sudah mencapai kenikmatan surgawi, tanpa menyentuh surga itu sendiri.

Begitu agungnya bersabar, memang mudah diucap, meski sulit dilakukan. Tetapi mengapa kita masih enggan untuk berusaha menempuhnya? Apakah ada alasan yang meyakinkan untuk menolak bersabar? Bahkan orang kafir, penjahat, kriminal mengakui keutamaan bersabar. Maling-maling di malam hari, mau bersabar menunggu pemilik rumah untuk tidur; penculik rela berhari-hari mondar-mandir mempelajari lokasi.

Allahummaj’alnaa minashoobiriin. Amiin

SABAR (Bagian II)

Posted in SPIRITUALITAS on Oktober 21, 2009 by Mochammad Sururi

Sabar (Bagian II)

Agak sulit memang menemukan definisi sabar yang benar-benar pas. Antara satu orang dengan lainnya bisa mempunyai definisi yang berbeda. Wajar jika demikian, sebab sabar merupakan istilah yang memuat hal-hal fisik dan non fisik. Campuran yang abstrak dengan yang riil. Sabar bisa tercermin dalam sikap perilaku yang keliatan, tetapi dia didasari pada sikap batin yang abstrak, ghoib. Allah tidak memberi batasan yang benar-benar jelas. Di berbagai ayat al qur’an sabar muncul. Salah satunya adalah ketika menggambarkan orang yang sabar : “…mereka yang ketika ditimpa musibah berkata inna lillahi wa innaa ilaihi rojiun”.  Orang sabar digamabrkan oleh allah adalah merek a yang ketika ditimpa musibah (kejadian yang tidak mengenakkan-pen) berujar innaa lillahi wa innaa ilaihi rojiun. gambaran tersebut lebih fokus kepada musibah, bukan nikmat. Allah paham betul terhadap psikologis manusia. Ketika nikmat manusia akan mudah mengucap terima kasih. Mudah memuji allah. Tetapi bagaimana kalau tidak menyenangkan? maga disitulah akan tergambar kesabaran seseorang. Dari sini ada satu pelajaran yang bisa kita ambil, bahwa manusia yang teruji adalah ketika mereka bisa melalui kesulitan, ketidakenakan. Kalau mau tahu apakah manusia itu bersukur atau tidak, maka lihatlah ketika tidak punya apa-apa. Apakah kita termasuk orang yang bersukur atau tidak atas kesehatan, maka lihatlah sikap kita ketika sakit. Apakah anda akan menggerutu dan mengomel ketika sakit? jika ya, berarti anda tidak bersukur atas kesehatan. Terkadang kita diberi flu satu jam saja mengeluhnya luar biasa…lupa jika allah memberi sehat selama puluhan tahun…itulah manusia yang sering melupakan allah. Tidak enak sedikit saja melupakan nikmat yang besar dan lama sebelumnya.

Tepat sekali allah menggambarkan tentang manusia yang sabar itu. Di saat tidak enak, maka manusia itu dengan penuh kesadaran mengakui : “sungguh…kami ini adalah milik allah dan kami semua akan kembali kepada allah…”. Kalimat ini dalam masyarakat kita sudah dipelintir sedemikian rupa hanya berlaku ketika ada orang meninggal. Kalau mau jujur sungguh ungkapan itu diucapkan hanya ketika ada orang meninggal adalah mengecilkan arti yang sesungguhnya. Ungkapan itu akan keluar dari mulut mereka yang terkena musibah. Bukan orang lain yang tidak kena musibah. Seandainya diucapkan orang lain, maka itu adalah bentuk mengingatkan untuk bersabar bagi yang ditimpa musibah.

Kata kami (innaa) adalah menunjukkan subyek jamak (pertama) atau kami. Jadi saya dan apa yang beserta saya. Sehingga disitu yang menjadi milik allah ada saya dan apa saja yang beserta saya, baik benda, kejadian atau apapun. Sehingga ketika ada kejadian yang membuat kita tidak nyaman, tidak menyenangkan, maka allah mengajari kita untuk mengakui bahwa itu semua dari allah. Orang sering dan mudah mengumpat ketika cuma tersandung. siapa sebenarnya yang diumpat?? kaki, batu, kejadian atau yang menciptakan kejadian tersandung tersebut. Sungguh seandainya tahu…orang di dunia ini tidak akan mudah mengumpat. Dosa besar. Demikian pula mengeluh…di al qur’an berkali-kali disebut “wa laa tai-asu..” berkali-kali…jangan putus asa…atas rahmat allah. kenapa lupa dengan nikmat-nikmat yang telah diberikan selama ini (wa bi ayyi alaai robbikuma tukadziban)?

dengan demikian, sabar kah diri kita??? cobalah apa yang pertama kali muncul dalam benak kita, hati kita; apa yang pertama terucap dari mulut kita ketika kita menemui kejadian, situasi, hal dan sesuatu yang buat diri kita tidak enak, tidak senang. Apapun yang muncul dalam benak kita, apapun yang terucap dari mulut kita, maka itulah indikator kesabaran kita. Selanjutnya nilailah sendiri…hanya anda dan allah yang paling tahu tentang diri anda.

Sabar adalah sebuah sikap yang tidak hanya soal ucapan, tetapi lebih dari itu, yaitu sikap hati, sikap batin yang terlahir melalui sikap perilaku dan dipertegas melalui ucapan. Sabar demikian penting, tetapi demikian berat dilakukan? untuk apa itu semua dilakukan? seberapa penting sabar dalam hidup, dalam ajaran agama? semoga bisa berlanjut dalam tulisan berikutnya.

Sabar

Posted in SPIRITUALITAS on Oktober 19, 2009 by Mochammad Sururi

SABAR (Bagian I)

Imam Nafri berkata : “Pintu terdekat kepadaNYA adalah sabar”. Dalam sabda Kanjeng Nabi Muhammad disebutkan : “Sabar itu sebagian(separo) dari Iman”. Begitu pentingnya sikap sabar dalam hidup sehingga ditempatkan dalam posisi yang strategis dalam kehidupan manusia, baik secara umum dan khusus keagamaan. Orang seringkali berkata : “Sabar itu ada batasnya…” Seolah kalimat tersebut sungguh pas untuk menggambarkan bahwa seseorang sudah berusaha bersabar, tetapi bagaimanapun tidak bisa terus menerus bersabar, jadi sabar itu ada batasnya.

Seolah kalimat tersebut mencerminkan sebuah kebenaran, tetapi hanya sebuah apologi semata, membela diri untuk menutup kelemahannya. Kalimat yang seolah-seolah menunjukkan kearifan itu sebenarnya adalah bisikan syaitan, tipu daya syaitan. Baiklah kita kupas : benarkan sabar ada batasnya?. bagaimana mungkin sebuah kebaikan dan anjuran agama yang diletakkan pada posisi sangat penting dibatasi? Bukankah yang sebenarnya adalah : keterbatasan manusia dalam menjalankan sabar? bukan sabar itu sendiri yang terbatas. Seperti sholat, sebagai kebaikan, apakah dibatasi? memang diatur mana yang boleh dan tidak, mana waktu sholat A dan mana sholat B. Itu tidak membatasi, hanya mengatur/regulasi. Sholat sunnah ada sholat mutlaq, yang bebas aturannya. Suatu ketika ada sahabat Nabi melaksanakan sholat sunnah sampai kakinya bengkak, maka Nabi menegur untuk tidak diteruskan kebiasaannya. Buka Nabi membatasi orang sholat sunnah, tetapi kemampuan manusia terbatas, jika berlebih akan sangat tidak baik.

Demikian pula sabar. Tidak dibatasi, tetapi kemampuan manusia itu sendirilah yang terbatas untuk menjalankannya. Kanjeng Nabi Muhammad adalah manusia yang sudah mencapai puncak kesabaran, bahkan jibril yang tak bernafsu saja “menyerah” atas kesabaran beliau. Sehingga kalau kita tidak bisa seperti Nabi, paling tidak kita mau menyadari bahwa itulah referensi terbaik akhlak bersabar, sekaligus menyadari dan mengakui bahwa manusia punya batas-batas kemampuan masing-masing untuk menjalankan kesabaran. jadi mampu mengucapkan : “Saya masih belum bisa bersabar atas masalah ini. Semoga tindakanku ini dimaafkan Allah, dan dimudahkan Allah”. atau “Saya sebagai manusia mempunyai keterbatasan untuk bersabar, maafkanlah dan ampunilah”.

By the way, apakah sabar itu? sikap diam, sikap pasif, tidak peduli. Apakah sikap /do’a Nabi Nuh terhadap umatnya kemudian ditenggelamkan itu bersabar? Apakah Sikap Musa menenggelamkan fir’aun dan pasukannya termasuk bersabar? Atau ketika Ibrahim menyembelih anaknya juga termasuk sabar?

Kalau itu..semoga disambung lagi di kesempatan