Arsip untuk ASAL USIL kategori

MEMAHAMI TRADISI

Posted in ASAL USIL on Januari 31, 2008 by Mochammad Sururi
MEMAHAMI TRADISI
Oleh : Sururi Arumbani

Seorang kyai menasehati jamaahnya: “kalau malam jum’at sebaiknya kerisnya dicuci, diasah, biar hebat kesaktiannya”. Setelah pengajian selesai, maka bapak2 sibuk mencari keris yang dimiliki. Bagi yang tidak punya maka bingung dia. Keesokan harinya dia menghadap kyai beserta teman lainnya dan bercerita kondisi yang tidak punya keris, dan pada malam jum’at tidak bisa mencuci, tetapi dia semalaman berhubungan badan dengan istrinya. Maka jawaban kyainya, “nah itu betul, sebab keris bapak kan cuma itu, maka ya itu yang dicuci dan diasah.” Maka yang laen bergumam, “wah kalau tau begitu mending nyuci keris yang itu ndak ribet, ndak perlu pake bunga, menyan, dan laennya”.

Seringkali kita memahami pesan budaya Jawa (maaf deh yang bukan jawa) tidak secara tepat, malah kecurigaan yang muncul. Misalnya pesan jangan “duwe gawe”/mantu atau lainnya di bulan suro atau selo. Memang ketika orang tua dulu ditanya mengapa, dijawab tidak baik. maka dipahami bulan-bulan tersebut sebagai bulan sial. Bahkan seringkali tokoh-tokoh ustadz mengutuk pesan tersebut. tapi kalau mau sedikit saja menelaah, maka tentu akan laen. jangan sampai seperti jamaah di atas.

Mari dimulai dari bulan selo. jarwane (karepe, uraiane) selo itu keSEselan oLO (kemasukan jelek). Coba bandingkan dengan nama dalam hijriyah (islam) zul qa’idah (miliknya orang yang duduk), artinya ya lebih baik untuk tenang. dalam sejarah bulan tersebut memang dilarang perang (bukan begitu) apa artinya, bulan2 tersebut adalah bulan untuk merenung, setelah sawwal dan puasa, maka diajak merenung kembali untuk memasuki bulan haji. Merenung dalam pemahaman agama, sehingga memasuki haji akan bersiap-siap bagi mereka yang mampu berhaji. Nah dus, tidak ada kontradiksi pesan dari leluhur jawa dengan maksud hijriyah, artinya sama-sama untuk merenung, bukan untuk seneng-seneng.

Bulan Suro, diambil dari kata asyuro (sepuluh hari), ini merupakan awal tahun dalam hijriyah, dan kebetulan sejarah mencatat peristiwa-peristiwa memilukan yang dialami para nabi dan tokoh islam masa lalu, dari mulai nabi musa, yusuf, sampe cucu Muhamamd SAW, di karbala. Maka jika bulan Suro dijadikan saat untuk introspeksi total pada diri manusia adalah sangat tepat. Nah pesan budaya jawa, maka saat yang baik untuk mencuci pusaka, membersihkan apa yang menjadi senjata ampuh, mencucui diri, mencuci pikiran, mental. Dengan demikian tirakat menjadi pilihan yang tepat. So bulan Suro yang diisi dengan kegiatan tersebut, maka klop dengan pesan hijriyah Muharram (bulan yang disucikan). Anda mau menikah/pesta disaat banyak orang prihatin??? APAKAH BIJAK SIKAP SEPERTI ITU??? nah ini bukan wilayah logika, tetapi wilayah empati, simpati, solidaritas.MALAM

Semoga bermanfa melihat versi cetaknya silakan klik (save target as) memahami-tradisi.doc

Posted in ASAL USIL on Januari 27, 2008 by Mochammad Sururi

untitled-1.jpg

Soal Tempe

Posted in ASAL USIL on Januari 21, 2008 by Mochammad Sururi

Akhir tahun 2007 dan awal 2008 pengusaha tempe dan tahu mengalami hambatan pasokan kedelai. Selama ini produk mereka sangat tergantung kedelai tersebut, dan ironisnya sangat tergantung pada impor dari Amerik Serikat. Keadaan tersebut, selain mempengaruhi proses produksi juga, menimbulkan gejolak demonstrasi, sebab selama ini industri kecil tahu dan tempe banyak berkembang dan menjadi andalan sumber penghasilan bagi rakyat kecil.

Tempe sudah dikenal masyarakat kita sebagai makanan khas dan warisan leluhur. Tetapi akhir-akhir ini memprihatinkan tentang keberadaannya. Mungkin seperti kasus reog, yang sempat diklaim sebagai budaya malaysia.

Tempe dipatenkan oleh Jepang, sementara bahan bakunya bergantung Amerika Serikat. Artinya kita ini pembuat dan pemakai saja, sementara tidak memiliki bahan baku atau lisensi atas barang produk sendiri. Jika demikian adanya, tempe akan menjadi isu internasional yang serius seperti reog . Mengapa?dari sisi ekonomi, tempe merupakan komoditas menarik, karena dikonsumsi oleh jutaan orang (meski masyarakat Indonesia saja umumnya). Nah ini tentu dapat dijadikan incaran produsen makanan. Bayangkan saja andai Jepang kemudian menemukan proses pembuatan yang lebihhigiensi, praktis, dan kemudian rasa yang variatif (toh itu bisa dicapai melalui ilmu dan teknologi). Maka justru kita tidak lagi jadi produsen, tetapi mutlak menjadi penonton dan pemakan tempe saja.

Tapi bagaimanapun perlu dipandang positif. sekarang orang tidak perlu lagi mengumpat dengan kata-kata “dasar mental tempe”, sebab tempe menjadi produk unggulan dan mendunia.

Ketintang-surabaya.

k4n6guru.